Artikelnews.com, Parepare — Inspektur Daerah Kota Parepare Iwan Asaad resmi menyerahkan buku karya terbarunya berjudul SLCI: Model Strategi Komunikasi Desa Wisata Berkelanjutan kepada Dinas Perpustakaan Kota Parepare.

Penyerahan buku dilakukan di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Panrita, Dinas Perpustakaan Parepare, Selasa (3/3/2026).

Penyerahan karya tersebut menjadi bagian dari kontribusi pemikiran bagi penguatan literasi sekaligus pembangunan berbasis potensi lokal.

Dalam buku tersebut, Iwan Asaad menguraikan bahwa keberhasilan Desa Wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam atau kekayaan budaya, tetapi sangat bergantung pada bagaimana potensi itu dikomunikasikan, dikelola, dan dihidupkan bersama masyarakat.

Buku itu memotret perubahan besar dalam dunia pariwisata dari konsep konvensional menuju Smart Tourism, yakni pendekatan berbasis teknologi informasi, data, dan media digital.

Namun, menurut Iwan, teknologi saja tidak cukup. Tanpa strategi komunikasi yang tepat, Smart Tourism justru berpotensi menjauhkan masyarakat lokal dari proses pembangunan. Karena itu, melalui kajian teori dan praktik lapangan, khususnya pada desa-desa wisata di Sulawesi Selatan, buku ini menegaskan pentingnya strategi komunikasi, difusi inovasi, serta partisipasi masyarakat dalam membangun citra dan keberlanjutan Desa Wisata.

Puncak gagasan dalam buku ini adalah Model SLCI (Smart Local Culture Integration), yang menekankan integrasi antara budaya lokal, partisipasi warga, dan ekosistem digital. Budaya lokal diposisikan sebagai identitas dan narasi utama yang perlu dikomunikasikan secara kreatif, etis, dan kontekstual.

Kepala Dinas Perpustakaan Parepare H. Ahmad menyampaikan apresiasi atas penyerahan buku tersebut. Dia menilai karya ini tidak hanya relevan bagi kalangan akademik, tetapi juga strategis bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat.

“Buku ini menjadi referensi penting, khususnya dalam mendorong pengembangan Desa Wisata yang adaptif terhadap teknologi namun tetap berakar pada budaya lokal. Kami menyambut baik kontribusi pemikiran seperti ini sebagai bagian dari penguatan literasi pembangunan di Kota Parepare,” ujarnya.

Ahmad menekankan bahwa kehadiran buku SLCI akan memperkaya koleksi referensi di Dinas Perpustakaan dan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, peneliti, ASN, serta pegiat pariwisata dan literasi.

Penyerahan buku ini menjadi simbol sinergi antara pemikiran akademik dan penguatan literasi daerah, sekaligus mendorong lahirnya inovasi komunikasi pembangunan yang lebih terarah, partisipatif, dan berkelanjutan.

“Terimas kasih sekali lagi kami haturkan atas penyerahan buku ini. Kami akan segera olah untuk dilayankan kepada pemustaka,” kata Ahmad.

Tentang Buku
Buku SLCI: Model Strategi Komunikasi Desa Wisata Berkelanjutan mengajak pembaca memahami bahwa keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam atau kekayaan budaya semata, tetapi sangat bergantung pada bagaimana potensi tersebut dikomunikasikan, dikelola, dan dihidupkan bersama masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi digital dan tuntutan pariwisata modern, desa
wisata dituntut untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri lokalnya.
Buku ini memotret perubahan besar dalam dunia pariwisata, dari konsep konvensional menuju smart tourism, yakni pariwisata yang memanfaatkan teknologi informasi, data, dan media digital untuk meningkatkan pengalaman wisatawan.

Namun, penulis menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup. Tanpa strategi komunikasi yang tepat, smart tourism justru berpotensi menjauhkan masyarakat lokal dari proses pembangunan pariwisata itu sendiri.

Melalui kajian teori dan praktik, buku ini menjelaskan peran strategi komunikasi, difusi inovasi, dan teknologi informasi dalam mendorong perubahan perilaku, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta membangun citra desa wisata secara berkelanjutan.

Pembahasan tidak berhenti pada konsep, tetapi diperkuat dengan realitas lapangan desa-desa wisata di Sulawesi Selatan, yang menunjukkan bahwa perbedaan strategi komunikasi dapat berdampak langsung pada naik-turunnya jumlah kunjungan wisatawan.

Puncak gagasan buku ini adalah pengenalan Model SLCI (Smart Local Culture Integration). Model ini menekankan pentingnya integrasi cerdas antara budaya lokal, partisipasi masyarakat, dan ekosistem digital. Budaya lokal tidak diposisikan sebagai sekadar objek tontonan, melainkan sebagai identitas, narasi, dan kekuatan utama yang harus dikomunikasikan secara kreatif, etis, dan kontekstual melalui media dan teknologi yang relevan.

SLCI ditawarkan sebagai solusi praktis bagi pengelola desa wisata, pemerintah daerah, komunitas lokal, pelaku UMKM, dan pegiat pariwisata untuk menyusun strategi komunikasi yang lebih terarah. Model ini membantu desa wisata membangun cerita, memperkuat keterlibatan warga, meningkatkan pengalaman wisatawan, serta menjaga keberlanjutan sosial, budaya, dan ekonomi desa.

Dengan pendekatan yang memadukan teori, data, dan praktik lapangan, buku ini tidak hanyamemperkaya wawasan akademik, tetapi juga menjadi panduan inspiratif bagi siapa saja yang ingin melihat desa wisata tumbuh lebih siap, lebih dikenal, dan lebih berdaya saing di era smart tourism—tanpa kehilangan akar budaya lokalnya.