Artikelnews.com, Makassar — Muassis Majelis Syuhada Kota Parepare H Bakhtiar Syarifuddin (HBS) ikut terimbas terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau.

Itu karena HBS yang sedianya berangkat ke Jakarta melalui Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar pada Ahad pagi (6/9/2026), tercancel (batal) karena penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), akibat erupsi tersebut.

Sesuai tiket, HBS dijadwalkan berangkat dengan menumpangi pesawat Batik Air menuju Jakarta pada pukul 06.25 WITA. Namun jadwal penerbangan itu dibatalkan akibat penutupan sementara Bandara Soetta.

Berdasarkan pengumuman dari otoritas resmi, penutupan sementara Bandara Soetta hingga pukul 13.30 WIB pada Ahad (6/9/2026). Namun hingga pukul 14.30 WITA di Makassar, belum ada penyampaian resmi terkait dibukanya kembali Bandara Soetta. “Iya belum ada kepastian, terpaksa saya segera kembali ke Parepare,” ujar HBS yang masih bertahan di Bandara Sultan Hasanuddin hingga pukul 14.40 WITA.

Akibat batal ke Jakarta, HBS pun terpaksa tidak bisa menghadiri acara pengambilan sumpah PNS putri bungsunya, Handina Sulastrina Bakhtiar, S.H., M.H, di Kampus Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta, pada Senin pagi (7/9/2026), pukul 09.00 WIB.

“Qadarullah (Takdir Allah), terpaksa saya tidak bisa menghadiri pengambilan sumpah PNS anak bungsu saya Senin besok pagi di Kampus UPN “Veteran” Jakarta. Saya sudah telepon si bungsu bahwa tidak bisa hadir karena penerbangan dicancel, ya Alhamdulillah dia bisa mengerti dengan situasi dan kondisi ini,” ungkap HBS.

Berdasarkan informasi yang diterima BMKG hingga pukul 10.25 WIB, Ahad (6/9/2026), terdapat lima bandara yang ditutup sementara. Bandara yang ditutup itu adalah ​Bandara Soekarno-Hatta mulai pukul 08.36 WIB hingga 13.30 WIB, Bandara Halim Perdanakusuma mulai pukul 09.49 WIB hingga 14.00 WIB, Bandara Radin Inten II, Lampung, ditutup hingga pukul 14.00 WIB, Bandara Budiarto, Curug, ditutup hingga pukul 13.30 WIB, dan Bandara Pondok Cabe, ditutup hingga pukul 14.00 WIB.

Penutupan sementara tersebut dilakukan berdasarkan koordinasi antara otoritas penerbangan, AirNav Indonesia, BMKG, dan pengelola bandar udara.

AirNav menyampaikan akan terus memantau perkembangan kondisi ruang udara secara intensif. “Setiap perubahan kondisi yang berpotensi memengaruhi keselamatan penerbangan segera kami tindaklanjuti melalui pembaruan informasi aeronautika dan penyesuaian pelayanan navigasi penerbangan sesuai kebutuhan,” tulis keterangan resmi AirNav.