Artikelnews, Kuala Lumpur – Sejumlah warga negara Malaysia mengaku geram dan memilih untuk memboikot produk asal Indonesia.

Kegeraman ini imbas kiriman kabut asap kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan.

Salah satu warga Malaysia, Hasnah AR, sudah bertahun-tahun mengandalkan sejumlah produk Indonesia untuk kebutuhan sehari-hari. Indocafe menjadi pilihan untuk kopi pagi, teh manis Sosro untuk minuman, sementara santan Kara digunakan saat memasak.

Namun, kebiasaan itu kini ingin dia tinggalkan. Perempuan berusia 67 tahun tersebut berencana berhenti membeli produk-produk Indonesia setelah menghabiskan sisa sachet Indocafe yang masih dimilikinya.

“Saya yakin produk buatan Malaysia juga sama bagusnya,” kata Hasnah, yang merupakan presiden sebuah organisasi nonpemerintah, kepada The Straits Times yang dilansir dari IDN Times, Senin (26/10/2026).

Keputusan itu muncul di tengah meningkatnya kemarahan warga Malaysia terhadap kabut asap lintas batas yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Bagi Hasnah, persoalannya bukan hanya udara yang tercemar, tetapi juga komentar di media sosial yang ia anggap merendahkan Malaysia.

Salah satu komentar yang membuatnya geram adalah pernyataan Syahganda Nainggolan, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Indonesia, mengenai Malaysia yang mendapatkan oksigen dari Indonesia. Hasnah menilai, boikot menjadi salah satu cara untuk merespons pernyataan tersebut.

“Jika kita tidak memberi mereka pelajaran, mereka tak akan berhenti,” ujarnya.

Kabut asap lintas batas bukan persoalan baru di kawasan Asia Tenggara. Asap dari kebakaran di Indonesia berulang kali menyebar ke negara-negara tetangga, menurunkan kualitas udara dan mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di Malaysia, episode kabut asap yang parah pernah memaksa sekolah-sekolah ditutup dan mengakibatkan kerugian ekonomi. Meski kerja sama regional telah berlangsung selama bertahun-tahun, persoalan tersebut masih menjadi ujian bagi hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangganya.

Sikap Hasnah mencerminkan rasa frustrasi sebagian pengguna media sosial Malaysia. Sejumlah warganet mulai menyusun daftar produk Indonesia yang ingin mereka hindari sekaligus menyarankan alternatif buatan lokal.

Salah satunya adalah pengguna Facebook bernama Salbiah Ahamad. Dia bertanya kepada pengguna lain mengenai merek santan yang akan mereka pilih setelah munculnya komentar soal “oksigen” tersebut. Unggahannya menarik lebih dari 400 komentar.

Banyak pengguna menyebut akan beralih ke merek lokal, seperti Saji atau Rasaku. Sementara itu, pengguna media sosial bernama Mohd Fikri menyindir para menteri Indonesia mungkin akan menghentikan pasokan oksigen ke Malaysia jika mengetahui adanya aksi boikot tersebut.

“Boikot saja mereka. Mereka terlalu nyaman menghina kita dengan lelucon soal oksigen,” tulis pengguna lain bernama Sky Ikemen.

Namun, boikot terhadap produk Indonesia secara luas dinilai belum tentu berdampak langsung terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan. Konsumen perlu mengetahui terlebih dahulu perusahaan mana yang benar-benar terkait dengan kebakaran tersebut.

Di tengah meningkatnya kemarahan publik, Malaysia mulai menjajaki sejumlah respons yang lebih luas. Langkah yang dibahas mencakup tekanan kepada perbankan agar menghentikan pembiayaan bagi perusahaan yang terkait dengan kebakaran, hingga kemungkinan menempuh jalur hukum.

Tantangan utamanya adalah membuktikan siapa yang menyebabkan kebakaran dan bagaimana aktivitas perusahaan tersebut menimbulkan kerugian di wilayah Malaysia.