Artikelnews, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk memberhentikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) terhitung mulai hari ini, Senin (14/9/2026). Prabowo lalu mengangkat Suahasil Nazara untuk menduduki jabatan tersebut.
Purbaya hanya menjabat sebagai Menkeu selama satu tahun lima hari. Ia dilantik pada 8 September 2025, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Sedangkan Suahasil sebelumnya adalah Wakil Menteri Keuangan yang telah menjabat sejak menjabat 25 Oktober 2019.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menilai, penyebab Purbaya diganti sebagai Menkeu oleh Suahasil Nazara karena memang buruk secara kinerja.
Menurut Adi. selama setahun menjadi Menkeu, Purbaya terlalu optimis saat awal menjabat tetapi tidak terbukti melalui kinerjanya.
Hal itu menurutnya terlihat dalam pernyataan Purbaya di depan publik terkait kondisi ekonomi Indonesia.
“Tak perform aja dengan tugasnya sebagai Menkeu. Awalnya memang banyak yang optimis dengan Purbaya karena omongannya sangat bombastis bisa selesaikan masalah. Nyatanya tak bisa berbuat banyak juga,” katanya, dilansir dari Tribunnews.com.
Adi pun menilai selama Purbaya menjabat sebagai Menkeu, banyak permasalahan ekonomi di Indonesia yang tidak mengalami perbaikan.
Contohnya terkait daya beli masyarakat, sempitnya lapangan pekerjaan, hingga soal kebijakan anggaran.
“Daya beli melemah, rendahnya serapan kerja formal, termasuk tidak bisa mengendalikan anggaran yang mengakibatkan kebocoran macam MBG,” ujarnya.
Selain itu, Adi juga menyoroti soal hubungan antara Purbaya dan kepala daerah yang tidak harmonis buntut kebijakan efisiensi.
Menurutnya, Purbaya kurang melakukan sosialisasi terkait kebijakan ini. Dia mengatakan, seharusnya, kebijakan efisiensi harus dilakukan secara bertahap.
“Di luar itu kan Purbaya hubungannya dengan asosiasi kepala daerah tegang gara-gara anggaran daerah dipangkas. Butuh bertahap dan perlu ada sosialisasi hingga kepala daerah tak kaget dengan adanya kebijakan efisiensi,” jelasnya.
Adi pun menilai, Purbaya salah menerjemahkan kebijakan efisiensi anggaran yang digencarkan oleh Prabowo.
“Iya (Purbaya salah menerjemahkan). Pada level implementasi efisiensi tidak hati-hati. Mestinya ada sosialisasi, bertahap, dan kepala daerah bisa penyesuaian,” ujarnya.
Lebih lanjut, Adi berharap bahwa Suahasil Nazara selaku pengganti Purbaya bisa melakukan perbaikan, meski dirinya mengakui tidak mudah.
Ia menegaskan sektor ekonomi memang paling banyak disorot publik di era pemerintahan Prabowo.
“Harapan perbaiki kinerja ada meski tantangannya tak mudah. Bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat adalah menjadi bidang yang paling banyak belakangan,” pungkasnya.




