Artikelnews, Makassar – Kekecewaan publik Portugal atas hasil kurang menggembirakan di laga awal Piala Dunia 2026 membuat isu pemboikotan terhadap bintang utama Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo, mencuat.
Surat kabar Spanyol, Marca, bahkan melaporkan bahwa isu mengenai kemungkinan adanya upaya pemboikotan terhadap Ronaldo, mulai menjadi bahan pembicaraan.
Cristiano Ronaldo mendapatkan sorotan tajam setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Republik Demokratik Kongo pada laga pembuka Piala Dunia 2026.
Hasil yang di luar perkiraan itu disebut memunculkan gesekan di dalam skuad. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu perjalanan tim asuhan Roberto Martinez sepanjang turnamen.
Situasi ini menempatkan pelatih timnas Portugal, Roberto Martinez, harus menemukan formula untuk mengatasi masalah tersebut. Khususnya dalam upaya meredam geo Cristiano Ronaldo yang masih tinggi.
“Sudah ada limitasi dari pergerakannya, apalagi posisinya adalah penyerang. Belum tentu juga Portugal tampil lebih baik tanpa Ronaldo,” kata Gigih, seorang football enthusiast, dalam podcast Tribunnews, yang dilansir dari Tribunnews.com, Ahad (21/6/2026).
“Bahkan kehadiran Ronaldo bisa menjadi faktor pendongkrak mental. Hal yang perlu dilakukan Roberto Martinez adalah bagaimana meredam ego Ronaldo,” sambungnya.
Nama Cristiano Ronaldo menjadi sosok yang paling banyak disorot dalam situasi ini. Kapten Portugal itu berada di pusat perdebatan yang berkembang di dalam tim.
Sebagian pihak masih mendukung keberadaannya di susunan pemain utama, tetapi ada pula yang menilai penyerang berusia 41 tahun tersebut seharusnya tidak bermain penuh selama 90 menit saat menghadapi Kongo.
Di media sosial, sejumlah pemain Portugal juga menjadi sasaran kritik keras dari para pendukung yang menuntut penghormatan lebih besar kepada Ronaldo.
Beberapa pemain utama seperti Bruno Fernandes, Joao Neves, Vitinha, dan Pedro Neto dituding tidak menghargai penyerang Al Nassr tersebut, bahkan dianggap menyimpan rasa iri terhadapnya.
“Wacana ini menunjukkan risiko terjadinya perang saudara di dalam tim nasional,” kata Vitor Pinto, wakil pemimpin redaksi media Portugal, Record, dalam wawancara dengan Marca.
“Ada reaksi terhadap setiap kritik yang diarahkan kepada Cristiano Ronaldo, dan dari situlah sebagian besar polarisasi muncul,” lanjutnya.
Satu di antara pemicu ketegangan di ruang ganti Portugal disebut berasal dari komentar gelandang Paris Saint-Germain, Joao Neves, setelah pertandingan melawan Kongo.
Neves, yang mencetak satu-satunya gol Portugal pada laga tersebut, memberikan jawaban yang dianggap tidak menempatkan Ronaldo di posisi istimewa ketika ditanya mengenai sang kapten.
“Kami tahu apa yang telah dilakukan Cristiano untuk kami, untuk tim nasional, dan untuk dunia sepak bola,” ujar Neves.
“Tetapi, saat ini, dia dan kami sama-sama tahu bahwa dia tidak berbeda. Dia hanyalah salah satu pemain yang ada di sini untuk membantu. Dia tidak berbeda dari yang lain. Dia berada di sini untuk berkontribusi, sama seperti kami semua,” tutur pemain PSG tersebut.
Pernyataan itu kemudian memicu reaksi dari sebagian penggemar Ronaldo. Gelandang berusia 21 tahun tersebut bahkan dituduh berusaha “menyabotase” sang kapten.
Menurut Marca, komentar Neves menjadi titik awal yang memperbesar ketegangan di dalam skuad Portugal.
Meski begitu, Vitor Pinto menegaskan bahwa situasi tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai adanya perpecahan nyata di dalam tim.
“Saya tidak percaya ada pemboikotan terhadap Cristiano Ronaldo. Mari kita perjelas itu sejak awal,” ujar Pinto.
“Tidak ada pemboikotan yang terorganisasi terhadap Cristiano Ronaldo di tim nasional. Namun, memang benar Portugal tidak banyak membangun komunikasi dengan penyerang tengah mereka. Mereka juga tidak menerapkan strategi yang memungkinkan sang striker membuka ruang bagi pemain lain untuk menembus pertahanan lawan dan menyelesaikan peluang,” jelasnya.




