Artikelnews, Makassar – Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa label “high class” hanya disematkan kepada sosok yang kaya raya dan strata sosial tinggi.

Psikolog Dr Noëlle Santorelli, PhD, mengemukakan jika hal itu tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, istilah “high class” atau “kelas atas” sering kali lebih erat kaitannya dengan perilaku seseorang.

“Seseorang dapat digambarkan high class, terlepas dari kekayaan atau statusnya, jika mereka menunjukkan kehalusan dalam tata krama, tutur kata, dan pakaian, menunjukkan keanggunan di bawah tekanan, memperlakukan orang lain dengan sopan, dan membawa diri dengan percaya diri yang tenang,” ungkapnya, dikutip dari Beautynesia, Sabtu (4/7/2026), yang melansir Parade.

Selain perilaku, sosok perempuan high class bisa terlihat dari pemilihan kalimat yang sering diucapkan sehari-hari.

“Orang-orang yang dianggap ‘kelas atas’ sering berbicara dengan tenang dan menahan diri (tidak pernah terburu-buru atau reaktif), menggunakan bahasa yang tidak langsung, sopan dan ramah, menghindari bahasa gaul atau kata-kata kasar, terdengar percaya diri tanpa berusaha membuktikan diri, [dan menggunakan] ungkapan [yang] mencerminkan kepercayaan diri,” tutur Dr Santotelli.

Berikut, beberapa kalimat yang sering diucapkan orang dengan label “hight class”.

  1. “Saya Sangat Menghargai Waktumu”

Perempuan high class sering mengucapkan kalimat “Saya Sangat Menghargai Waktumu”.

Ungkapan “waktu adalah uang” adalah sesuatu yang sudah tidak asing lagi. Bagi kebanyakan orang, ungkapan ini adalah hal yang benar-benar mereka rasakan dan terapkan dalan hidup.

Perempuan “high class” paham bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga. Mereka berterima kasih ketika orang lain telah meluangkan waktunya untuk bertemu dirinya.

“Saat menggunakan kalimat ini, orang lain merasa dihargai, tidak dianggap remeh, dan lebih mungkin untuk memenuhi permintaan Anda,” kata Dr Santorelli.

Namun, terkadang kalimat ini bisa terdengar sebagai bentuk basa-basi semata. Oleh karena itu, menurut psikolog klinis Dr Cynthia Shaw, penting untuk mengucapkan kalimat ini dengan tulus dan bersungguh-sungguh.

  1. “Senang Sekali Bertemu denganmu”

Dr Shaw mencatat bahwa orang-orang “high class” cenderung menekankan awal dan akhir interaksi sosial. Mengapa? Karena bagian-bagian inilah yang paling diingat orang dan paling memengaruhi cara mereka mengingat kamu, Beauties.

Hal ini didasari pada fenomena psikologis “Peak-end Rule”, yaitu aturan yang menyatakan bahwa klimaks dan akhir suatu peristiwa paling berpengaruh dan berdampak pada persepsi dan perasaan seseorang terhadap percakapan atau interaksi tersebut.

“‘Senang bertemu denganmu’ menandakan keramahan dan kemudahan didekati tanpa perlu berbelit-belit,” jelas Dr. Santorelli.

  1. “Terima Kasih”

Kalimat “terima kasih” mungkin terdengar sederhana. Tapi kalimat ini bisa berdampak besar.

Dr Shaw mengatakan bahwa salah satu tanda perempuan “high class” adalah memiliki sopan santun.

Mereka sering mengucapkan “terima kasih” atas permintaan atau jika seseorang memberi mereka ucapan selamat berupa pujian, tindakan baik, atau layanan. Ucapan “terima kasih” yang sederhana dapat sangat bermanfaat untuk mengungkapkan rasa terima kasih, keramahan, dan kesopanan.

  1. “Saya Mengerti Maksudmu, dan Saya Pikir…”

Apa yang dilakukan perempuan “high class” ketika memiliki perbedaan pandangan dengan orang lain? Mereka tidak mengatakan “Tidak, itu salah” ketika orang lain mengemukakan pendapat yang berbeda dengan pendapatnya.

Mereka akan memahami sudut pandang orang lain dan berkata, “Saya mengerti maksudmu, dan saya pikir…”

“Hanya karena Anda berbasa-basi, bukan berarti Anda harus setuju dengan apa yang dikatakan,” kata Dr Shaw.

“Menyetujui untuk tidak setuju, seperti [dengan] ‘Saya mengerti maksud Anda, dan saya pikir (xyz)’, mendorong dialog yang sehat dan menunjukkan rasa hormat bahkan ketika dihadapkan dengan pandangan yang berlawanan,” tambahnya.

Dr Santorelli menambahkan bahwa mengakui perspektif yang berlawanan sebelum menyampaikan perspektif kita menunjukkan empati dan dapat mencegah perasaan defensif dari orang tersebut ketika kita menyampaikan perspektif yang berlawanan.

  1. “Maafkan Saya”

Menurut Dr Santorelli, kalimat “Maafkan saya” umumnya digunakan oleh orang “high class” untuk meminta maaf atas ketidaknyamanan atau kesalahan kecil.

Kalimat ini biasanya digunakan untuk meminta maaf atas tindakan kecil. Selain itu, kalimat ini juga menunjukkan bahwa orang yang mengucapkannya menerima tanggung jawab tanpa meminta maaf berlebihan atau menciptakan kecanggungan.

Susunan kata dalam kalimat ini terdengar anggun dan fasih, yang menunjukkan kedewasaan.