Artikelnews.com, Makassar – Tumpukan limbah sabut kelapa yang selama ini belum termanfaatkan di Kabupaten Kepulauan Selayar diproyeksikan menjadi sumber ekonomi baru melalui Program Living Laboratory Ekonomi The Green Gold Kelapa Selayar Sulawesi Selatan.

Program riset yang digagas Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) bersama mitra akademik Universitas Islam Makassar (UIM) ini berfokus pada pengolahan limbah sabut kelapa menjadi dua produk bernilai tambah, yakni Cocodye sebagai pewarna alami ramah lingkungan dan cocopeat block yang diproyeksikan menyasar pasar ekspor.

Ketua Tim Riset Cocodye Polipangkep, Zulfitriany D. Mustaka, mengatakan program tersebut tidak hanya berorientasi pada inovasi produk, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis potensi lokal melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

“Kami ingin menghadirkan transformasi ekonomi kelapa di Selayar. Selama ini sabut kelapa masih menjadi limbah, padahal memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi jika diolah dengan pendekatan teknologi dan pemberdayaan masyarakat,” kata Zulfitriany.

Menurutnya, program Living Laboratory akan dijalankan bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Konsep living laboratory dipilih agar proses riset, inovasi, hingga implementasi dilakukan langsung bersama masyarakat sebagai pelaku utama.

“Kami sudah mendiskusikan program ini bersama Bapak Bupati Selayar. Nantinya implementasi akan dilakukan bersama Dinas Perindag Selayar sehingga riset benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan industri,” ujarnya.

Zulfitriany menjelaskan, salah satu luaran program yang telah berhasil dicapai adalah pengembangan Cocodye, pewarna alami berbahan limbah sabut kelapa yang telah memperoleh apresiasi nasional setelah ditampilkan pada pameran Hari Ulang Tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

“Cocodye sudah diterima pasar. Itu menjadi bukti bahwa limbah sabut kelapa dapat diubah menjadi produk inovatif yang memiliki nilai jual dan potensi industri,” katanya.

Selain memperkuat pasar Cocodye, tim riset kini mulai mempersiapkan pengembangan cocopeat block yang banyak dibutuhkan sebagai media tanam hortikultura dan perkebunan di pasar internasional.

“Untuk cocopeat block, kami menargetkan dalam tiga bulan ke depan sudah siap memasuki tahap inisiasi pasar. Kami melihat peluang ekspornya sangat besar sehingga perlu dipersiapkan sejak awal, mulai dari standar mutu hingga rantai pasok,” jelas Zulfitriany.

Ia menambahkan, pendekatan yang digunakan dalam program tersebut mengintegrasikan konsep Scientech melalui peta Helix yang mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam satu ekosistem inovasi.

Melalui model tersebut, tim riset akan memetakan seluruh rantai nilai mulai dari pengumpulan limbah, proses pengolahan, pengendalian mutu, hingga strategi pemasaran dan ekspor.

“Kami ingin membangun model yang berkelanjutan. Bukan sekadar menghasilkan produk, tetapi menciptakan sistem ekonomi baru yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi limbah kelapa di Selayar,” tuturnya.

Program Living Laboratory The Green Gold Kelapa Selayar diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi hijau berbasis sumber daya lokal yang dapat direplikasi di berbagai daerah penghasil kelapa di Indonesia. Dengan memanfaatkan limbah yang selama ini terbuang, Selayar berpeluang memperkuat daya saing industri kelapa nasional sekaligus membuka pasar ekspor melalui produk-produk inovatif bernilai tinggi.