Artikelnews, Wonosobo – Sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, dirampok oleh sejumlah orang. Aksi perampokan tersebut direncanakan secara matang. Bahkan para pelaku sempat melakukan gladi resik.
Para pelaku memerlukan waktu sampai 10 hari untuk menyiapkan segalanya hingga perampokan berlangsung pada Ahad (9/8/2026) malam.
Dalam aksi tersebut, mereka berhasil menggondol uang total Rp 718 juta. Perampokan dilakukan oleh enam orang. Dari jumlah tersebut, empat diantaranya sudah tertangkap. Sedangkan sisa dua orang masih buron.
Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja mengatakan, para pelaku mulai menyusun rencana pada akhir Juli 2026.
“Perencanaan ini dilakukan di akhir Juli sebenarnya, 10 hari sebelum kejadian. Di sebuah kos-kosan di Banjarnegara,” kata Ricky saat konferensi pers di Mapolres Wonosobo, yang dilansir dari Tribun Jateng, Sabtu (16/8/2026).
Dari pertemuan tersebut, para pelaku kemudian menyusun pembagian tugas untuk menjalankan aksi di SPBU Selokromo.
Persiapan kembali dilakukan dua hari sebelum perampokan. Para pelaku berkumpul di sebuah bengkel di wilayah Kecamatan Leksono.
Di lokasi tersebut, mereka melakukan latihan sekaligus mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk menjalankan aksinya.
“H-2 mereka berlatih dan berkumpul lagi di sebuah bengkel di wilayah Leksono,” ujarnya.
Selain melakukan latihan, komplotan tersebut juga menyiapkan kendaraan yang akan digunakan menuju lokasi.
Mobil yang digunakan disewa terlebih dahulu, kemudian dimodifikasi menggunakan skotlet hitam agar tidak mudah dikenali melalui rekaman CCTV.
Dalam aksi tersebut, enam orang memiliki peran masing-masing.
Empat orang berada di dalam mobil dan menuju SPBU Selokromo untuk menjalankan aksi. Sementara satu orang lainnya menunggu di bengkel.
Satu pelaku lainnya bertugas memastikan kondisi di sekitar lokasi tetap aman. Pelaku tersebut memantau situasi menggunakan sepeda motor dari jarak tertentu di sekitar SPBU.
Dua pelaku yang kini masih berstatus DPO juga disebut memiliki peran dalam mempersiapkan aksi tersebut.
AR disebut berperan sebagai pemodal, penyedia senjata airsoftgun, sekaligus penyusun skenario aksi.
Sementara AD berperan menyediakan kendaraan dan atribut penyamaran yang digunakan dalam aksi tersebut.
Kapolres mengatakan, dua pelaku yang belum tertangkap tersebut memiliki peran penting dalam mengatur rangkaian aksi, termasuk pembagian tugas dan latihan para pelaku.
“Ini yang belum tertangkap, ini yang menyutradarai, yang melatihkan, ada latihan di tempat kos-kosanya dia. Latihannya begini, kamu perannya ini, dia yang mengatur peran-perannya,” jelasnya.
Polisi juga masih mendalami dugaan adanya pihak yang mengetahui kondisi internal SPBU sehingga waktu pelaksanaan aksi dapat diperhitungkan.




