Artikelnews.com, Parepare — Inovasi oleh Pemerintah Kota Parepare mendapat pujian saat dipresentasikan di ajang Penghargaan Innovative Government Award (IGA) Tahun 2026.

Wali Kota Parepare Tasming Hamid yang memimpin langsung presentasi secara virtual di hadapan Tim Dewan Juri Penghargaan IGA 2026, Selasa (3/11/2026).

Dalam presentasi itu, Wali Kota turut didampingi oleh Kepala Bappeda Parepare HA Ardian Asyraq, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Parepare Budi Rusdi, Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Mardiah, para pejabat terkait, serta inovator dari Dispertapan, dan inovator dari Disdikpora, Haeruddin yang juga Kepala UPTD SDN 56 Parepare.

Tim dewan juri secara terbuka mengapresiasi positif dan memuji dua inovasi yang dipresentasikan Wali Kota Tasming Hamid. Kedua inovasi itu adalah Berdaya Srikandi yang diinisiasi oleh Dispertapan, dan Mantra Bugis Pakatajang oleh Disdikpora.

Dalam presentasinya, Tasming memaparkan kesesuaian inovasi daerah dalam menjawab isu strategis/permasalahan di daerah. RPJMD Parepare 2025-2029 menetapkan tujuh permasalahan pokok pembangunan daerah.

“Kami menjawabnya melalui dua inovasi yang saling melengkapi, yaitu Berdaya Srikandi, yang menjawab persoalan ekonomi dan kesejahteraan. Dan, Mantra Bugis Pakatajang, yang menjawab persoalan kualitas manusia dan karakter,” ulas Tasming.

Tasming melanjutkan ulasannya bahwa dari permasalahan pertumbuhan ekonomi melambat Berdaya Srikandi mampu menumbuhkan usaha kelompok baru dari potensi perikanan pesisir. Kemiskinan masih tinggi, Berdaya Srikandi membuka
sumber penghasilan bagi keluarga pesisir.

Pengangguran terbuka masih tinggi, Berdaya Srikandi telah memberi pekerjaan dan peran bagi sarjana perempuan lokal, serta usaha bagi perempuan pesisir.

Masalah pendapatan per kapita rendah, Berdaya Srikandi telah meningkatkan pendapatan rumah tangga anggota kelompok. Masalah Ketimpangan pendapatan tinggi, Berdaya Srikandi menyasar kelompok pesisir yang selama ini rertinggal ataupun termarginalkan.

Sementara inovasi Mantra Bugis Pakatajang menjawab tantangan permasalahan yang dihadapi pada melambatnya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia yang tidak hanya diukur dari angka pendidikan dan kesehatan, tetapi juga dari karakter dan jati diri generasi muda. Karena itu, inovasi Mantra Bugis Pakatajang hadir menjadi salah satu solusi.

“Salah satu tantangannya adalah bahasa dan aksara Bugis yang perlu dijaga agar tidak terkikis. Dan Pemerintah Kota Parepate telah menetapkan bahasa Bugis sebagai muatan lokal wajib di SD dan SMP melalui SK Wali Kota Nomor 856 Tahun 2024, sebanyak dua jam pelajaran per minggu mulai 1 Januari 2025,” ungkap Tasming.

Tasming mengungkapkan, melalui inovasi Mantra Bugis Pakatajang “Melestarikan Sastra Bugis melalui Aplikasi Aksara sesuai Tuntunan Zaman Sekarang” memberikan solusi membawa pembelajaran aksara dan sastra Bugis ke format digital yang akrab bagi anak-anak masa kini.

Inovasi ini menarik tim dewan juri, bahkan mendorongnya untuk terus dikembangkan karena dinilai terobosan yang mampu memadukan teknologi masa kini, metode konvensional dan budaya lokal.

“Ini perlu dikembangkan ke banyak lagi sekolah. Bahkan kalau perlu dikembangkan di Sulawesi,” saran dewan juri.

Inovator Haeruddin menjawab bahwa inovasi ini siap dikembangkan di Parepare, tidak hanya pada satu sekolah, tapi juga sejumlah sekolah lain.

Haeruddin mengulas bahwa sebagai upaya menjaga identitas kultural masyarakat asli Bugis di Parepare, pelestarian aksara Lontara kini dihadapkan pada tantangan karakteristik kognitif Generasi Z dan Alpha yang lebih responsif terhadap interaktivitas visual dibandingkan teks linier konvensional.

Merespons hal tersebut, inovasi ini menawarkan kebaharuan dengan mentransformasi metode ceramah menjadi sebuah ekosistem gamifikasi digital yang memadukan pembelajaran multisensori dan multimedia dengan mekanisme reward, leveling, dan umpan balik langsung.

Ekosistem cerdas ini dirancang sebagai intervensi simultan yang secara spesifik mendongkrak minat (afektif) sekaligus kemampuan membaca teknis (kognitif) murid tanpa rasa bosan, serta telah didukung oleh arsitektur alur adaptif yang siap diintegrasikan dengan Kecerdasan Buatan (AI) guna menjawab kompleksitas pelestarian bahasa di masa depan.

IGA Award diselenggarakan oleh Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri. Penilaian melalui presentasi kepala daerah ini dilakukan secara hibrid dari Command Center dan Ruang Video Conference BSKDN Kemendagri, Jakarta, mulai 3 – 5 November 2026.

Pada Selasa (3/11/2026), kepala daerah pemapar dari regional Sulawesi masing-masing Gubernur Sulut, Gubernur Sulteng, Gubernur Sulsel, kemudian Wali Kota Makassar, Bupati Banggai, Bupati Pangkep, Wali Kota Parepare, Wali Kota Palopo, Bupati Sidrap, dan Bupati/Sekda Mamuju Tengah.

Presentasi secara nasional diikuti oleh 57 pemerintah daerah terpilih yang memaparkan strategi inovasi serta dua inovasi unggulan (digital dan non-digital) terkait isu pertumbuhan ekonomi, PAD, pengangguran, dan kemiskinan.