Artikelnews, Mamuju — RSUD Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) melaksanakan apel pagi yang dirangkaikan dengan edukasi kewaspadaan terhadap transmisi penyakit campak sebagai upaya pencegahan penularan di lingkungan rumah sakit, Rabu (15/4/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) RSUD Sulbar, dr. Yuniarti Arsyad, Sp.KK., M.Kes, yang memberikan edukasi langsung kepada para tenaga kesehatan. Kegiatan berlangsung di lobi depan RSUD Provinsi Sulawesi Barat dan diikuti oleh jajaran petugas medis maupun non-medis.

Dalam penyampaiannya, dr. Yuniarti menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan terhadap penyebaran virus campak, terutama di lingkungan fasilitas layanan kesehatan yang memiliki risiko tinggi penularan. Ia juga mengingatkan agar seluruh tenaga kesehatan senantiasa menerapkan protokol pencegahan infeksi secara konsisten.

Selain itu, dijelaskan bahwa campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular dan umumnya menyerang anak-anak, meskipun orang dewasa juga dapat terinfeksi. Secara umum, campak dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya campak biasa (measles/rubeola) yang ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta muncul ruam pada kulit. Kemudian campak Jerman (rubella), yang cenderung lebih ringan namun berbahaya bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan gangguan pada janin.

Lebih lanjut, juga dikenal campak berat yang dapat menimbulkan komplikasi seperti infeksi paru (pneumonia), diare berat, hingga gangguan pada sistem saraf. Oleh karena itu, deteksi dini dan pencegahan melalui imunisasi serta penerapan pola hidup bersih dan sehat sangat penting dilakukan.

Yuniarti juga mengingatkan bahwa tingkat penularan campak sangat tinggi, di mana satu orang penderita dapat menularkan kepada sekitar 11 hingga 12 orang lainnya jika tidak dilakukan pencegahan dengan baik.

Melalui edukasi ini, diharapkan informasi yang disampaikan tidak hanya dipahami oleh tenaga kesehatan, tetapi juga dapat diteruskan kepada masyarakat luas, terutama di lingkungan sekitar dan keluarga. Masyarakat diharapkan lebih memahami gejala awal serta dampak penyakit campak sehingga dapat melakukan langkah pencegahan dan penanganan lebih dini.

Ia juga berharap, ke depan Provinsi Sulawesi Barat dapat mencapai kondisi nol kasus (zero case) penyakit campak melalui kerja sama semua pihak, baik tenaga kesehatan, pemerintah, maupun masyarakat.

“Edukasi ini penting untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan terkait cara penularan virus campak serta langkah-langkah pencegahan guna melindungi pasien, petugas, dan lingkungan rumah sakit,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, RSUD Sulbar berharap seluruh tenaga kesehatan semakin siap dalam menghadapi potensi penyebaran penyakit menular, sekaligus memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan yang aman dan berkualitas kepada masyarakat.