Artikelnews.com, Parepare — Jumat, (15/5/2026), suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Nurussamawati, Kota Parepare, saat ratusan jamaah menghadiri kegiatan Safari Subuh berjamaah yang digelar Majelis Syuhada.
Sejak dini hari, jamaah dari berbagai wilayah mulai berdatangan untuk bersama-sama menunaikan shalat Subuh, berzikir, dan mempererat ukhuwah Islamiyah dalam semangat dakwah dan kebangkitan masjid.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin ibadah berjamaah, tetapi telah berkembang menjadi gerakan spiritual yang mengajak masyarakat kembali memakmurkan masjid, terutama pada waktu Subuh yang selama ini dikenal sebagai salah satu waktu paling berat bagi sebagian kaum Muslimin.
Yang membuat Safari Subuh kali ini terasa istimewa adalah lokasi pelaksanaannya. Masjid Nurussamawati dikenal memiliki keterkaitan dengan program pembangunan 999 masjid pada masa Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP).
Program tersebut dikenal luas sebagai salah satu proyek pembangunan masjid terbesar di Indonesia pada masanya, dengan ciri arsitektur khas yang hingga kini masih mudah dikenali di berbagai daerah.
Bagi sebagian jamaah, hadir di Masjid Nurussamawati bukan hanya menghadiri Safari Subuh, tetapi juga seperti menelusuri jejak sejarah dakwah dan pembangunan umat Islam di Indonesia. Nuansa historis tersebut berpadu dengan semangat ibadah yang hidup, menghadirkan suasana yang berbeda dan penuh makna.
Barisan jamaah tampak memenuhi ruang utama hingga area pelataran masjid. Dengan dominasi pakaian muslim berwarna putih, suasana Subuh terasa teduh, khidmat, dan menyejukkan hati. Banyak jamaah mengaku merasakan energi spiritual yang kuat ketika melihat masjid dipenuhi kaum Muslimin pada waktu Subuh.
Muassis Majelis Syuhada, H. Bakhtiar Syarifuddin, SE, dalam keterangannya menyampaikan bahwa Safari Subuh bukan hanya sekadar kegiatan rutin, melainkan bagian dari ikhtiar membangun kembali kekuatan ruhani umat melalui masjid.
“Masjid harus kembali hidup. Dari masjid lahir persatuan, ilmu, dakwah, dan kekuatan umat. Safari Subuh ini adalah ajakan untuk kembali mencintai masjid dan menjaga shalat berjamaah, khususnya Subuh,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa gerakan memakmurkan masjid harus dilakukan secara terus-menerus dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda.
“Kalau masjid hidup, Insya Allah umat juga akan kuat. Kita ingin menghadirkan suasana di mana umat Islam merasa rindu datang ke masjid, merasa nyaman dengan majelis ilmu, dan terbiasa memulai harinya dengan shalat Subuh berjamaah,” tambahnya.
Dalam sambutannya, pengurus masjid turut menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Kehadiran Majelis Syuhada dinilai mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk kembali dekat dengan masjid dan menghidupkan tradisi shalat berjamaah.
Safari Subuh Majelis Syuhada sendiri belakangan menjadi perhatian masyarakat di kawasan Ajatappareng dan Sulawesi Selatan. Di sejumlah lokasi pelaksanaan sebelumnya, jumlah jamaah terus meningkat. Fenomena ini menunjukkan tumbuhnya kerinduan masyarakat terhadap majelis-majelis dakwah yang menyejukkan, mempersatukan, dan menghidupkan syiar Islam secara damai dan penuh ukhuwah.
Melalui gerakan Safari Subuh ini, Majelis Syuhada berharap masjid tidak hanya ramai pada momentum tertentu, tetapi benar-benar kembali menjadi pusat pembinaan umat, pusat persaudaraan, pusat ilmu, dan pusat kebangkitan spiritual masyarakat.
Di tengah tantangan zaman modern yang semakin menjauhkan manusia dari kehidupan ruhani, gerakan memakmurkan masjid seperti ini menjadi pengingat bahwa kekuatan umat selalu lahir dari masjid — tempat hati dipersatukan, doa-doa dipanjatkan, dan iman kembali dikuatkan.




