Artikelnews, Makassar – Banyak orang merasa sudah berolahraga hanya karena sering berjalan kaki dalam aktivitas harian, seperti naik tangga, berpindah ruangan di kantor, atau berjalan sebentar lalu berhenti, padahal pola tersebut belum tentu memberikan efek kesehatan yang optimal bagi tubuh.
Dokter ilmu faal olahraga klinis dr. Iwan Wahyu Utomo, AIFO.K, menjelaskan bahwa jalan kaki akan memberikan manfaat terbaik jika dilakukan secara dinamis, stabil, dan berkelanjutan, bukan terpotong-potong oleh banyak jeda.
Menurut Iwan, perbedaan utama antara jalan kaki sebagai aktivitas harian dan jalan kaki sebagai olahraga terletak pada kontinuitas gerakan.
“Kalau olahraga itu dinamis, artinya dilakukan terus-menerus dari awal sampai akhir tanpa berhenti,” kata Iwan, dilansir dari Kompas.com, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, secara teori, jalan kaki sebagai olahraga idealnya dilakukan minimal 30 menit tanpa henti, karena tubuh membutuhkan waktu untuk masuk ke fase pembakaran energi dan adaptasi kerja jantung.
“Kalau jalan sebentar lalu berhenti, jalan lagi lalu berhenti, manfaatnya tidak seoptimal jalan kaki yang stabil dan berkelanjutan,” ujarnya.
Meski begitu, bagi orang dengan kesibukan tinggi, jalan kaki tetap bisa dibagi dalam dua sesi, misalnya pagi dan sore, asalkan setiap sesi tetap dilakukan secara dinamis dan tidak terlalu sering berhenti.
Iwan menambahkan, jalan kaki yang terlalu sering berhenti membuat tubuh sulit mencapai intensitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan kebugaran jantung, membakar kalori, dan memperbaiki daya tahan tubuh.
“Yang penting itu pace-nya stabil dan gerakannya terus,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa rasa lelah ringan saat jalan kaki adalah hal yang normal, tetapi selama tidak muncul keluhan seperti nyeri dada, pusing berputar, atau sesak napas berlebihan, maka aktivitas tersebut masih tergolong aman.
“Kalau sudah jalan stabil 30 menit dan tidak ada keluhan, itu tandanya intensitasnya sudah cukup dan aman,” kata Iwan.
Sebaliknya, jika saat jalan kaki muncul tanda-tanda seperti sesak napas, pusing, nyeri dada, atau nyeri sendi, maka aktivitas harus segera dihentikan dan intensitas perlu dikurangi.




