Artikelnews, New York – Saat ini sedang tren di Kota New York, Amerika Serikat, orang-orang rela antre demi berburu makanan viral di supermarket mewah.
Meski harganya mahal, pembeli rela antre demi ayam goreng hingga kue yang hits.
Belanja bahan makanan di New York kini tak sekadar membeli kebutuhan sehari-hari. Sejumlah supermarket mewah justru menjadi destinasi kuliner populer berkat makanan viral, kemasan menarik, dan popularitasnya di media sosial.
Dikutip dari Detik.com, Selasa (8/9/2026), yang melansir Food and Wine, sebelum menjamurnya supermarket mewah dan premium, New York dikenal sebagai salah satu kota dengan biaya hidup termahal di Amerika.
Dulu banyak toko kelontong yang menjual bahan makanan premium seperti Dean & Luca, yang pertama kali berdiri di 1977 dan lokasinya ada di SoHo, New York.
Kini, gerai utama Dean & Luca di 560 Broadway sudah tutup, digantikan gerai American Eagle.
Tapi supermarket mewah di Manhattan justru makin menjamur dengan hype yang lebih besar, harga yang lebih mahal, dan makanan siap saji yang didesain khusus biar gampang viral di media sosial.
Fenomena ini terlihat ketika supermarket Meadow Lane dibuka di Tribeca pada November 2025. Meski luasnya hanya sekitar 185 meter, pengunjung rela mengantre hingga mengular ke luar gedung untuk mencoba makanan yang viral di media sosial.
Salah satu yang menjadi incaran adalah The Tenders, potongan ayam berlapis tepung bebas gluten seharga $17 (Rp300 ribu). Meski sempat muncul laporan dari pengunjung di awal pembukaan, bahwa ayamnya kurang matang dan dingin, antreannya tetap panjang.
Fenomena serupa terjadi di supermarket mewah lainnya. Happier Grocery, yang dijuluki influencer sebagai ‘Erewhon-nya New York’, menjual brokoli seharga $7,50 (Rp133 ribu). Sementara toko Rigor Hill Market menawarkan ayam panggang rotisserie seharga $40 (Rp707 ribu).
Beberapa bulan kemudian, toko-toko itu kerap terlihat sepi. Tapi influencer dan turis masih mampir untuk berburu makanan viral seperti The Tenders, atau kemasan plastik berisi salad ayam dan tuna dingin seharga sekitar USD 14 per porsi (Rp247 ribu).
Fenomena supermarket mewah ini muncul di tengah tingginya harga bahan makanan di New York. Di sisi lain, Wali Kota New York Zohran Mamdani mengusulkan supermarket milik pemerintah kota sebagai salah satu upaya mengatasi persoalan akses pangan.
Kondisi tersebut membuat harga di sejumlah supermarket mewah semakin mencolok.
Menurut mantan pastry chef sekaligus ahli keuangan, Venus Grimes, pengunjung umumnya tidak berbelanja seluruh kebutuhan dapur di supermarket tersebut. Mereka lebih tertarik membeli produk tertentu yang sedang viral.
“Orang-orang tidak berbelanja seluruh kebutuhan sehari-hari mereka di toko seperti Meadow Lane, tetapi mereka datang untuk membeli produk yang muncul di media sosial,” jelas Grimes.
Ia mencontohkan, chicken nugget dari Meadow Lane dan Dot Cake yang dijual Butterfield Market. Menurutnya, banyak produk di supermarket mewah sebenarnya serupa, bahkan identik, dengan barang yang tersedia di supermarket biasa. Perbedaannya terletak pada penyajian yang lebih bergaya dan menarik.
Popularitas Dot Cake bahkan membuat Butterfield Market yang sudah berusia 100 tahun dipadati pembeli pada Mei lalu. Kue dalam wadah seharga $11 (Rp194 ribu) itu dihiasi sprinkle warna-warni. Ratusan video di media sosual memperlihatkan pelanggan mengantre lebih dari satu jam untuk mencicipinya.
Food vlogger ternama asal Amerika, Sister Snacking, turut mencoba dot cake varian red velvet, vanilla, dan cokelat.
Mereka menilai kue tersebut memiliki rasa seperti buatan rumahan, tetapi cenderung terlalu manis dan sebenarnya mudah dibuat sendiri.
Bagi sebagian pengunjung, daya tarik supermarket mewah ini memang bukan hanya soal rasa. Datang ke tempat populer, mencoba makanan viral, lalu mengunggahnya ke media sosial menjadi bagian dari pengalaman.




