Artikelnews, Jakarta – Selebgram dan Beauty Influencer, Tasya Farasya, bersama sejumlah influencer dan tokoh ternama di Indonesia mengaku mengalami anomali di akun media sosial mereka usai posting soal kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Akun medsos para influencer dan tokoh-tokoh ini diduga terkena shadow ban.

Shadow ban adalah konten yang disembunyikan oleh pihak platform dari timeline pengguna. Akibatnya, seluruh aktivitas yang dilakukan di media sosial tidak dapat dilihat oleh orang lain, meskipun user belum menerima larangan atau pemberitahuan resmi dari platform media sosial tersebut.

Di akun Threads @tasyafarasya, Tasya Farasya yang memiliki 7,4 juta pengikut di Instagram menuturkan jumlah views di Instagram Stories miliknya mengalami penurunan. Biasanya satu juta, menjadi 85.000-an saja.

“Stories aku biasanya VS story aku saat speak up. 🙂🙂🙂🙂,” ungkap Tasya sambil memberi dua screenshot pembanding.

Sementara itu, influencer lainnya yakni Jerome Polin mengaku Instagram Story miliknya tidak mengalami shadow ban dan dirinya merasa bersyukur.

“Aku gak tau pasti caranya, tapi kalo aku liat pola dan pelajari, pakai template “add yours” bisa ngeboost views,” kata Jerome dengan akun Threads @jeromepolin.

“Kita lawan shadow ban guys! Ayo terus bersuara dan raise awareness sampe semua orang sadar how chaos is the situation right now. Rakyat bantu rakyat!” imbuhnya.

Kembaran Tasya Farasya, yakni Tasyi Athasyia yang juga merupakan YouTuber di bidang kuliner mengklaim dirinya kena shadow banned.

“WALAUPUN KENA SHADOW BANNED, it will never stop me from speaking out about the issues that are happening right now. ❤️ #kahutla #kalimantan #indonesia,” tulisnya.

Selanjutnya, penyanyi Andien bercerita viewers di Instagramnya menurun, padahal ia sedang ingin mempromosikan video klip terbaru.

“Kayaknya kena shadow ban di ig krn repost2 karhutla tiada henti 🥲 Mau promo in video klip baru tapi viewersnya drop 💔,” ujar @andien.

Akan tetapi, walaupun para influencer dan warganet mengeluhkan penurunan views, hal tersebut belum cukup untuk memastikan adanya pembatasan oleh platform medsos.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) belum memberikan klarifikasi dari isu yang kini sedang ramai diperbincangkan tersebut.

Direktur Pengendalian Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Safriansyah Yanwar Rosyadi, menegaskan bahwa Komdigi tidak pernah meminta platform membatasi maupun menurunkan konten terkait karhutla.

“Kami menegaskan bahwa Komdigi tidak pernah menginstruksikan atau mengajukan permintaan kepada platform untuk membatasi atau menurunkan konten terkait kebakaran hutan,” kata Safriansyah, dilansir dari Detik.com, Selasa (20/10/2026).