Artikelnews.com, Parepare — UPTD SMPN 10 Kota Parepare merayakan peringatan Hari Batik Nasional 2026, dengan menggelar berbagai kegiatan bernuansa batik yang kreatif dan edukatif.

Puncak kegiatan digelar secara semarak di halaman SMPN 10 Parepare pada Rabu (7/10/2026).

Lomba-lomba yang digelar tersebut di antaranya Lomba Majalah Dinding 2 dan 3 Dimensi, Lomba Fashion Show Seni Batik, hingga Pemilihan Duta Baca Putra dan Putri.

Lomba Majalah Dinding (Mading) dipertandingkan antar kelas. Setiap kelas berkesempatan memaparkan Madingnya. Jadinya para murid dari setiap kelas unjuk kreativitas Lomba Mading hingga Fashion Show yang menampilkan seni batik hasil kreativitas murid.

Plt Kepala UPTD SMPN 10 Parepare Sultan Efendy SPd MPd mengatakan, semarak peringatan Hari Batik Nasional di SMPN 10 bertujuan untuk memberikan kesan mendalam sekaligus menjadi wujud apresiasi atas batik sebagai warisan budaya bangsa yang sangat berharga.

“Kami ingin mendorong murid untuk lebih kreatif dalam memaknai setiap momen termasuk peringatan Hari Batik Nasional ini. Harapannya, murid-murid SMPN 10 menjadi cerdas dan berkarakter, serta tentunya dapat meningkatkan mutu sekolah,” kata Sultan.

Batik merupakan kain tradisional Indonesia yang keberadaannya diperkirakan telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Pada masa awal perkembangannya, busana bermotif batik hanya digunakan di lingkungan keraton untuk pakaian para raja dan keluarga kerajaan.

Penetapan Hari Batik Nasional bertumpu pada pengakuan resmi dari lembaga kebudayaan dunia terhadap kain tradisional khas Indonesia.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), sejarah Hari Batik Nasional bermula ketika UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya takbenda. Pengakuan tersebut disahkan dalam sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Takbenda yang berlangsung di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.

Saat itu, batik resmi terdaftar dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity (Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Warisan Manusia) UNESCO, menyusul kebudayaan Indonesia lainnya seperti wayang, keris, noken, dan tari saman.

Jauh sebelum pengakuan tersebut, batik telah diperkenalkan ke panggung internasional oleh Presiden Soekarno. Pemerintah Indonesia kemudian mendaftarkan batik secara resmi untuk mendapatkan status warisan budaya takbenda ke UNESCO pada 4 September 2008.

Momen bersejarah 2 Oktober 2009 tersebut akhirnya ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009. Sejak saat itu, seluruh instansi pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah diimbau untuk mengenakan batik setiap tanggal 2 Oktober.